7 Amalan Sunnah Sebelum & Sesudah Shalat Idul Adha

Lebaran Idul Adha merupakan salah satu dari dua hari raya umat Islam. Pada hari raya ini, umat Islam menyembelih, berkurban dengan tujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Sholat Idul Adha merupakan salah satu amalan yang dianjurkan untuk diamalkan ketika Lebaran. Biasanya ibadah ini dikerjakan secara berjamaah meski diperbolehkan dilakukan sendiri tergantung situasinya.

Namun sebelum itu ada amalan sunnah sebelum dan sesudah sholat Idul Adha. Dilansir dari berbagai sumber, hukum sholat Idul Adha adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Meski tak bersifat wajib tapi pelaksanaan ibadah sunnah ini dianjurkan dan sangat penting karena bertujuan dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur. Sebelum tiba waktu shalat, umat Muslim dianjurkan untuk melakukan beberapa amalan.

Namun karena sifatnya sunah, seseorang juga tak akan berdosa jika tak melakukan amalan-amalan yang dimaksud. Selain berkurban, ada beberapa amalan lain sesuai petunjuk Rasulullah SAW. Mengutip karya Syekh Wahbah Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, dan dari berbagai sumber yang sudah Slamet Aqiqah rangkum, berikut beberapa amalan sunah sebelum sholat Idul Adha yang dianjurkan.

1. Menghidupkan Malam Takbiran 

Hal pertama dalam meyambut hari raya adalah dengan menghidupkan malam Idul Adha. Masyarakat kita biasa menyebutnya malam takbiran karena memang, di malam ini takbir saling bersahutan. Kita dianjurkan menghidupkan malam ini dengan rupa dzikir, terutama takbir, shalawat, shalat malam dan lain sebagainya. Terlebih, malam takbiran ini merupakan salah satu dari waktu mustajab, di mana besar kemungkinan doa kita dikabulkan Allah SWT.

Umat Muslim dianjurkan untuk mengumandangkan takbir di masjid, musala, hingga rumah-rumah pada malam jelang Idul Adha. Momen ini biasa dikenal dengan istilah ‘malam takbiran’. Anjuran ini terdapat dalam kitab Raudlatut Thalibin, yang bunyinya sebagai berikut :

فَيُسْتَحَبُّ التَّكْبِيرُ الْمُرْسَلُ بِغُرُوبِ الشَّمْسِ فِي الْعِيدَيْنِ جَمِيعًا، وَيُسْتَحَبُّ اسْتِحْبَابًا مُتَأَكَّدًا، إِحْيَاءُ لَيْلَتَيِ الْعِيدِ بِالْعِبَادَةِ

Artinya:

” Disunahkan mengumandangkan takbir pada malam hari raya mulai terbenamnya matahari dan sangat disunahkan juga menghidupkan malam hari raya tersebut dengan beribadah. “

Takbir akan dimulai dari matahari terbenam pada 9 Zulhijah hingga imam naik ke mimbar untuk memberikan khotbah Idul Adha. Baca Juga Jasa Paket Aqiqah di Tangerang Selatan – Hubungi Kami Slamet Aqiqah 081 878 9119. 

2. Mandi, Memakai Wewangian dan Mengenakan Pakaian Paling Bagus

Hal ini dianalogikan dengan shalat Jumat. Nabi SAW sering mengingatkan jika seorang muslim hendak beribadah secara berjamaah agar mandi terlebih dahulu. Juga memakai wewangian supaya selain menjadikan diri sendiri segar, juga agar orang lain tidak terganggu dengan aroma tak sedap dari badan kita.

Tidak lupa pula kenakan pakaian terbaik yang kita miliki, karena ini dianjurkan dan diamalkan oleh Sahabat Nabi SAW. Umat Muslim juga dianjurkan melakukan mandi khusus sebelum salat Id. Mandi ini mirip dengan mandi junub atau mandi besar. Mandi bisa dilakukan kapan pun asalkan sebelum salat Id.

Anda juga bisa melakukan mandi ini pada malam hari sebelumnya. Namun, yang paling utama adalah mandi sesudah waktu Subuh. Mandi dimulai dengan bacaan niat, mencuci kedua tangan tiga kali, membersihkan area tubuh yang tertutup, mengguyur kepala tiga kali, mengguyur tubuh sebelah kanan dan kiri masing-masing tiga kali, hingga keramas.

3. Berangkat Ketempat Shalat Dengan Berjalan Kaki 

Amalan lainnya pada saat Idul Adha adalah berjalan kaki ketika kita berangkat menuju ke tempat shalat Id. Hal ini tentu berdasarkan kebiasaan atau Sunnah Rasulullah. Di mana Rasulullah tidak pernah menunggangi tunggangan saat berangkat menuju ke tempat shalat Id. Kemudian biasanya antara jalan pergi dan pulang, Rasulullah menempuh jalan yang berbeda.

Dari sahabat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata :

كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

“ Nabi SAW ketika shalat ‘ied, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang. ” (HR. Bukhari no. 986)

Kemudian sahabat Ibnu Umar ra. juga berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا

“ Rasulullah SAW biasa berangkat sholat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang juga dengan berjalan kaki. ” (HR. Ibnu Majah no. 1295)

4. Tidak Makan Terlebih Dahulu Sebelum Shalat Sunnah Idul Adha

Berbeda dengan Idul Fitri, saat Idul Adha kita dianjurkan untuk tidak terburu-buru sarapan. Sebaiknya, kita makan setelah shalat. Bahkan, jika memungkinkan, kita baru makan setelah daging kurban telah siap disantap.

Ada perbedaan antara anjuran makan pada sholat Idul Fitri dan Sholat Idul Adha. Pada sholat Idul Fitri, umat muslim dianjurkan untuk makan terlebih dahulu. Sedangkan tidak dianjurkan makan terlebih dahulu jika melaksanakan sholat Idul Adha.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, ” Nabi SAW pada hari raya Idul Fitri tidak keluar sebelum makan, dan pada hari raya Idul Adha tidak makan sehingga selesai salat. ” (HR. At-Tirmidzi)

5. Menunjukkan Keceriaan Serta Pererat Silaturahmi

Dua hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha merupakan hari kegembiraan bagi umat muslim. Karenanya, pada saat hari raya, kita dianjurkan menunjukkan keceriaan kita. Tidak lupa, pererat silaturahim dengan mengunjungi sanak saudara di hari bahagia ini. Hari Raya Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat Islam. Oleh karena itu, sudah sewajarnya bagi Anda membagikan kebahagiaan, salah satunya dengan berbagi ucapan selamat pada sesama muslim.

6. Puasa Arafah 

Puasa Arafah adalah puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Zulhijjah. Pada saat itu kaum muslimin yang sedang menunaikan ibadah haji tengah wukuf di Padang Arafah. Sedangkan bagi kaum muslimin yang sedang wukuf di Arafah dilarang berpuasa.

Adapun keutamaan puasa ‘Arafah adalah sebagaimana sabda Rasulullah saw : “ Dari Abi Qatadah al-Anshari, bahwasanya Rasulullah saw ditanya tentang puasa Arafah, lalu ia berrsabda: “Puasa Arafah itu dapat menghapuskan dosa (selama dua tahun), yakni satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. Adapun puasa ‘Asyura (10 Muharram) dapat menghapuskan dosa selama setahun yang telah lalu. ” (HR Muslim)

7. Ibadah Qurban 

Kurban dilaksanakan pada hari tasyrik bulan Dzulhijah yaitu tepatnya di Hari Raya Iduladha. Sunnah Idul Adha untuk berkurban ada dalam hadis Imam Bukhori dan Imam Muslim :

“ Rasulullah beribadah kurban 2 ekor domba warna putih bersih dan bertanduk bagus. Aku melihat Rasul meletakkan kakinya ke atas sisi tanduk (kanan) hewan kurban itu sambil menyebut nama Allah dan bertakbir. Rasulullah menyembelih kedua hewan kurban itu dengan tangannya sendiri. ”

Kami Juga Menyediakan Jasa Paket Aqiqah di Jakarta Selatan, Bagi anda yang ingin aqiqah dan qurban bisa hubungi kami Slamet Aqiqah 081 878 9119.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *