Pesan Moral Ibadah Qurban

Setiap ibadah yang dikerjakan bertujuan takwa. Takwa banyak memiliki arti (lafal musytarak). Pengertian takwa adalah takut (khasiyah), takwa juga berarti berani (syaja’ah). Takwa dapat berarti petunjuk (hidayah), sehingga Rasulullah SAW berdoa : “ Allahumma inna nas’alukal huda wat-tuqa wal ‘afafa wal ghina. ” Wahai Allah, sesungguhnya kami berharap kepada-Mu, petunjuk, takwa, kehormatan dan kekayaan (kecukupan).

Maksudnya, jangan Engkau datangkan kepada kami kesesatan, kedurhakaan, kehinaan dan kemiskinan. Termasuk pesan moral idul qurban adalah takwa. Takwa berkonotasi selalu merasa diawasi Tuhan, senantiasa merasa diperhatikan oleh-Nya. Dua perayaan dalam Islam mengandung arti pesan moral, idulfitri dan iduladha (idul qurban). Nabi Muhammad SAW memberi garansi bahwa siapa yang menghidupkan (mensyiarkan) dua malam hari raya, niscaya Allah akan menghidupkan hatinya saat hati manusia semuanya mati.

Sabda Rasul ini telah mendorong banyak umat untuk menyemarakkan-nya dengan takbir, tahmid, tahlil, tasbih, salawat, doa dan istighfar. Se-kampung, se-desa, se-kota, se-kabupaten, seprovinsi, bisa dengan pawai obor atau kreasi anak bangsa yang lain, seperti takbir keliling. Umat merespon sabda beliau dengan kearifan lokal masing-masing daerah. Demi mencari, menemukan dan mengambil pesan moral yang dibawa oleh malam idul qurban.

Baca Juga Jasa Paket Aqiqah di Tangerang Selatan – Hubungi Kami Slamet Aqiqah 081 878 9119.

Salah satu ibadah yang dilaksanakan ketika hari raya Idul Adha adalah ibadah kurban. Sebagian umat Islam mampu melaksanakannya, sebagian lagi menunggu tahun-tahun selanjutnya dan tetap berdoa supaya diberi rezeki serta ridha dari Allah ﷻ. Menyembelih hewan kurban tentunya bukan sekadar penyembelihan hewan-hewan tertentu, kemudian disantap dan selesai begitu saja. Ibadah ini memiliki pesan-pesan moral yang mesti kita teladani dan lakoni dalam kehidupan kita sebagai hamba Allah ﷻ.

Dalam Al-Qur`an Allah ﷻ berfirman di Surat al-Hajj ayat 37 :

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“ Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. ” (QS. Al-Hajj: 37)

Oleh karena itu, umat islam yang merayakan ibadah qurban diharapkan tidak hanya sebatas ritual yang miskin makna, akan tetapi ada nilai-nilai luhur dan moral yang dapat diimplementasikan. Berikut ini pesan moral yang sudah Slamet Aqiqah rangkum dari berbagai sumber, diantara makna moral yang terkandung di dalam ritual qurban adalah sebagai berikut :

1. ketundukan Ibrahim a.s kepada Rabbnya membawa pesan moral kepada kita semua untuk senantiasa taat dan patuh terhadap aturan Undang-undang yang telah digariskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Patuh terhadap rambu aturan dan undang-undang hukum yang ada sebagai warga negara yang baik.

2. Dibebankannya ibadah haji ini bagi umat islam yang mampu dan mendidistribusikan dagingnya kepada kaum lemah menyiratkan pesan substansial kepada kita agar selalu bersemangat membantu meringankan penderitaan orang lain. Bantuan tidak hanya sebatas materi, melainkan ide tenaga atau pikiran yang akan dapat meringankan dan penyelesaian problematika hidupnya. Secara substansial belum dapat disebut “berkurban” manakala di dalam dirinya belum tumbuh semangat berkurban dan membantu penderitaan orang lain.

3. Menyembelih hewan berarti menyembelih sifat-sifat kebinatangan seperti egois, serakah, rakus, menindas, tidak mengenal aturan, norma atau etika dan bertengkar bahkan membunuh hanya demi keuntungan sesaat, memperkaya diri sendiri, menindas yang lemah dan arogan. Hal ini menunjukan bahwa qurban yang dilakukan berdampak mampu memberikan kontribusi dan penyadaran untuk memperbaiki diri dan menata tatanan sosial yang baik.

4. Disunahkan menggemakan takbir sampai waktu ashar di akhir hari tasyrik (tanggal 13 Dzulhijjah) memperlihatkan kepada kita bahwa hanya Allah-lah yang memiliki kekuasaan Agung dan Absolut. Oleh karenanya, tidak patut kita bertindak semena-mena terhadap orang lain serta berjalan di muka bumi dengan congkak. Pemaknaan seperti inilah yang memberikan spirit dari esensi dan substansi yang akan menemukan relevansinya dengan kondisi lingkungan dan bangsa kita saat ini.

Nilai dan pesan moral inilah yang ingin dibentangkan, bahwa kehadiran idul qurban merupakan kehadiran waskat Tuhan yang selaras. Tidak terpisah diri adalah dengan Tuhan (rabb). Dengan keluarga dapat terpisah, dengan jabatan akan terpisah, dengan harta akan ditinggal, dengan sahabat akan pergi. Selalu hadir setiap waktu dan ruang hanyalah dengan-Nya, dekat (qarib) dan meliput (muhith).

Daya yang sangat kuat adalah dengan Allah (billah), upaya yang pasti adalah dengan-Nya (billah). Dengan nama Allah, semua terwujud (bismillah masya Allah). Jadi, satu pesan moral hari raya idul qurban adalah pengawasan melekat dengan Tuhan (waskat Tuhan) yang akan memantik pesan moral berikutnya, ibarat lokomotif yang menarik gerbong kereta. Semoga pelaksanaan kurban kita semua menjadi ibadah yang hakiki dalam konteks ritual maupun sosial.

Kami Juga Menyediakan Jasa Paket Aqiqah di Jakarta Selatan, Bagi Anda Yang Ingin Aqiqah dan Berkurban Bisa Hubungi Kami Slamet Aqiqah 081 878 9119.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *