Tata Cara Pelaksanaan Aqiqah Sesuai Ajaran Islam

sobat slamet aqiqah, Sudahkah kita beraqiqah atau diaqiqahkan? Bagi yang belum melaksanakannya, sebelum kita melakukan aqiqah ada baiknya kita mengetahui tata cara pelaksanaan aqiqah sesuai ajaran islam. Berikut ini Slamet Aqiqah akan mengulas tentang tata cara pelaksanaan aqiqah yang seharusnya sesuai dengan ajaran islam, supaya pada saat aqiqah kita dihitung sebagai  umat yang menjalankan sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran bayi yang dinantikan, dalam tradisi umat Islam dikenal dengan aqiqah. Hukum aqiqah sendiri menurut pendapat yang paling kuat adalah sunah muakadah. Sedangkan tata cara aqiqah untuk anak laki – laki dan perempuan pada dasarnya sama saja. Adapun yang membedakan yaitu jumlah kambing yang dikurbankan untuk aqiqah. Aqiqah untuk anak laki – laki menggunakan dua ekor kambing, sedangkan perempuan adalah satu ekor kambing.

Salah satu sunnah atas lahirnya seorang bayi adalah melaksanakan aqiqah. Tata cara aqiqah umumnya dilaksanakan pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Baca Juga Jasa Paket Aqiqah di Tangerang Selatan – Hubungi Kami Slamet Aqiqah 081 878 9119.

Aqiqah secara bahasa artinya rambut anak yang baru lahir. Sementara itu, merujuk pada buku Aqiqah : Tata Cara dan Doanya oleh Abu Nur Ahmad al-Khafi Anwar bin Shabri Shaleh Anwar, secara istilah aqiqah adalah penyembelihan hewan qurban karena kelahiran seorang bayi dalam sebuah keluarga sebagai rasa syukur atas karunia keturunan dari Allah SWT.

Dalil mengenai aqiqah disebutkan dalam riwayat yang berasal dari Samuroh bin Jundub RA, Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Artinya: “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, maka hendaklah disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (HR Ibnu Majah. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ahmad dan lainnya juga meriwayatkan hal yang sama).

Menurut ulama mazhab Syafi’i, aqiqah sunnah dilakukan oleh pihak-pihak yang wajib menafkahi anak tersebut. Sementara itu, ulama mazhab Hanafi menyatakan bahwa aqiqah hukumnya mubah dan tidak sampai mustahab (dianjurkan).

Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum aqiqah tidak wajib. Namun, aqiqah akan menjadi wajib hukumnya apabila dinazarkan sebelumnya.

Tata Cara Aqiqah dan Ketentuannya

Wahbah az-Zuhaili dalam bukunya Fiqih Islam wa Adillatuhu menjelaskan, syarat hewan yang akan disembelih sebagai aqiqah sama dengan hewan qurban, baik dari segi jenis, usia, dan sifat-sifatnya yang harus bebas dari cacat.

Menurut mazhab Syafi’i, jumlah kambing untuk aqiqah anak laki-laki adalah dua ekor, sedangkan anak perempuan cukup satu ekor. Pendapat ini merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA:

“Rasulullah SAW memerintahkan kami agar mengaqiqahkan anak laki-laki dengan (menyembelih) dua ekor kambing dan mengaqiqahkan anak wanita dengan (menyembelih) seekor kambing.” (HR. Ibnu Majah).

1. Waktu Pelaksanaan

Para ulama menyepakati jika waktu pelaksanaan yang paling baik dan paling afdol adalah di hari ke-7 sejak hari kelahiran. Diriwayatkan Samurah bin Jundub Ra, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap bayi digadaikan oleh aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hati ketujuh, lalu dicukur dan diberi nama.” (HR. An-Nasa’i).

Cara menentukan hari ketujuh adalah dengan menyertakan hari kelahirannya. Jadi misalnya anak lahir di hari Rabu, maka waktu pelaksanaan bisa dilakukan di hari Selasa minggu berikutnya. Tetapi kalau ada satu dan lain hal atau halangan lain, bisa dilaksanakan di hari ke-14 atau hari ke-21. Hal ini berdasarkan sebuah hadis dikatakan, “Penyembelihan hewan aqiqah bisa hari yang ke-7, hari ke-14, atau hari ke-21.” Hadis ini dianggap sebagai hadis yang shahih oleh sebagian ulama.

2. Syarat Memilih Hewan Untuk Aqiqah

Kambing atau domba yang akan dikurbankan kriterianya harus sehat, bebas cacat atau penyakit dan usianya kurang dari setengah tahun.

3. Menyembelih Hewan Aqiqah 

Hewan aqiqah hendaknya disembelih pada hari ketujuh kelahiran bayi. Jika si bayi lahir pada malam hari, maka tujuh hari tersebut dapat dihitung mulai keesokan harinya.

Perihal waktu penyembelihan hewan aqiqah ini, ulama mazhab Syafi’i dan Hambali memperbolehkan untuk menyembelihnya sebelum atau sesudah hari ketujuh.

Menurut sekelompok ulama mazhab Hambali, aqiqah boleh dilakukan oleh sang ayah sekalipun anaknya telah baligh. Sebab, tidak ada batasan waktu untuk melaksanakan aqiqah.

4. Memasak dan Membagikan Daging Aqiqah 

Terdapat dua pendapat mengenai daging aqiqah. Sebagian ulama berpendapat boleh membagikan daging aqiqah tanpa dimasak terlebih dahulu, sedangkan sebagian yang lain menyatakan lebih utama apabila dimasak lalu dibagikan dalam kondisi matang.

Dalam sebuah hadits yang berasal dari Aisyah RA, setelah memasak hewan aqiqah, keluarga dapat memakan sebagian daging tersebut lalu menyedekahkan sebagian yang lain.

5. Memakan Sebagian Daging Aqiqah

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bayhaqi, Aisyah ra. berkata: “Sunahnya dua ekor kambing untuk anak laki – laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”.

Dari hadits tersebut jelas bahwa daging aqiqah boleh dimakan oleh keluarga, dan sebagian lainnya bisa dibagikan kepada tetangga atau fakir miskin. Tata cara ini hampir sama dengan cara pembagian daging kurban.

6. Mencukur Rambut dan Memberikan Nama Kepada Bayi

Pelaksanaan aqiqah ini diikuti dengan mencukur rambut bayi. Selain itu, nama juga dapat diberikan saat pelaksanaan aqiqah tersebut.

7. Mendoakan Bayi Saat Aqiqah

Umat Islam juga dianjurkan membaca doa saat melaksanakan aqiqah. Doa ini bisa dibaca saat menyembelih hewan aqiqah, saat mencukur rambut dan setelahnya, serta membacanya untuk menutup rangkaian aqiqah.

…. بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهم مِنْكَ وَلَكَ هَذِهِ عَقِيْقَةُ

Bismillâhi wallâhu akbar allahumma minka wa laka hadzihi ‘aqiqatu (sebutkan nama bayi yang hendak dilakukan aqiqah)

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, milikmulah hewan aqiqah ini. Inilah aqiqahnya (sebutkan nama bayi yang hendak dilakukan aqiqah),”

Doa saat mengadakan walimatul aqiqah:

اللَّهُمَّ احْفَظْهُ مِنْ شَرِّ الْحِنِّ وَالْإِنْسِ وَأُمِّ الصِّبْيَانِ وَمِنْ جَمِيعِ السَّيِّئَاتِ وَالْعِصْيَانِ وَاحْرِسْهُ بِحَضَانَتِكَ وَكَفَالَتِكَ الْمَحْمُودَةِ وَبِدَوَامِ عِنَايَتِكَ وَرِعَايَتِكَ النَّافِذَةِ نُقَدِّمُ بِمَا عَلَى الْقِيَامِ بِمَا كَلَّفْتِنَا مِنْ حُقُوقِ رُبُوْبِيَتِكَ الْكَرِيمَةِ نَدَبْتَنَا إِلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَلْقِكَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَأَطْيَبُ مَا فَضَّلْتَنَا مِنَ الْأَرْزَاقِ اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَأَهْلِ الْقُرْآنِ تَجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الشَّرِ وَالضَّيْرِ وَ الظُّلْمِ وَالطَّغْيَانِ

Allaahummahfadzhu min syarril jinni wal insi wa ummish shibyaani wa min jamii’is sayyiaati wal ‘ishyaani wahrishu bihadhaanatika wa kafaalatika al-mahmuudati wa bidawaami ‘inaayatika wa ri’aayatika an-nafiidzati nuqaddimu bimaa ‘alal qiyaami bimaa kalaftanaa min huquuqi rububiyyaatika al-kariimati nadabtanaa ilaihi fiimaa bainanaa wa baina khalqika min makaarimil akhlaaqi wa athyabu maa fadhdhaltanaa minal arzaaqi. Allaahummaj’alnaa wa iyyaahum min ahlil ‘ilmi wa ahlil khairi wa ahlil qur’aani taj’alnaa wa iyyaahum min ahlisy syarri wadh dhairi wadz dzalami wath thughyaani.

Artinya: “Ya Allah, jagalah dia (bayi) dari kejelekan jin, manusia ummi shibyan, serta segala kejelekan dan maksiat. Jagalah dia dengan penjagaan dan tanggungan-Mu yang terpuji, dengan perawatan dan perlindungan-Mu yang lestari. Dengan hal tersebut aku mampu melaksanakan apa yang Kau bebankan padaku, dari hak-hak ketuhanan yang mulia. Hiasi dia dengan apa yang ada di antara kami makhluk-Mu, yakni akhlak mulia dan anugerah yang paling indah. Ya Allah, jadikan kami dan mereka sebagai ahli ilmu, ahli kebaikan, dan ahli Al-Qur’an. Jangan Kau jadikan kami dan mereka sebagai ahli kejelekan, keburukan, aniaya, dan tercela.”

Itulah tata cara aqiqah sesuai Sunnah yang bisa anda ikuti. Sebagian besar ulama setuju bahwa waktu terbaik untuk melaksanakan aqiqah adalah pada saat bayi sudah berumur tujuh hari. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa aqiqah bisa dilaksanakan pada hari keempat belas atau hari kedua puluh satu setelah kelahiran bayi.

Kami Juga Menyediakan Jasa Paket Aqiqah di Jakarta Selatan – Hubungi Kami Slamet Aqiqah 081 878 9119. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *